Patung Akar di 0 Kilometer, Siapa Yang Salah?

Patung Akar di belakang UPT Malioboro. foto: @liputan6dotcom

berkecamuk dalam pikiran tentang penjelasan Patung Akar di 0 Kilometer yang begitu lama bertahan, masih saat obrolan santai dengan Pengurus Kota waktu itu.

Kenapa patung itu bisa begitu lama bertahan? Kenapa Pengurus Kota seperti membiarkan patung itu berada di situ? Kenapa senimannya tidak memindahkannya? dan kenapa kenapa lainnya..

Kalau dari sisi Ruang Publik, area Titik 0 Kilometer ( dan ruang publik lainnya ) sebaiknya mempunyai peraturan-peraturan yang harus diketahui oleh masyarakat umum, seniman, event organizer, komunitas sampai pedagang asongan dan yang sering berkaitan dengan penggunaan ruang publik itu.

Senimanpun hendaknya mengerti, bahwa pameran di ruang publik itu tentu ada batasan waktunya. Tidak hanya satu seniman yang membutuhkan ruang publik, sehingga mereka semestinya sadar bahwa masih banyak seniman lain yang membutuhkan tempat berpameran dengan biaya murah.

Pengurus Kota-pun hendaknya sadar, bahwa ruang publik itu bukan hanya ruang publik yang bisa dipergunakan dengan bebas sebebas bebasnya, tetapi ruang publik yang bebas terbatas, ruang publik yang bebas tapi ada aturan mainnya. Sehingga perlu dibuatkan aturan-aturan, bukan hanya aturan saja, tetapi penerapan pelaksanaannya. Percaya, Pengurus Kota psti sudah punya aturannya. Bukan hanya kalau ada kepentingan tertentu baru peraturannya berlaku.

Patung Akar, seni instalasi yang mungkin pemegang rekor pameran terlama di Titik 0 Kilometer, adalah karya seni menjadikan Pengurus Kota serba salah untuk ‘memindahkan’nya. Kalau dipindahkan begitu saja, takut dibilang tidak mendukung seniman berkarya. Kalau tidak dipindahkan, sakjane yo rapopo sih.. patung itu jadi obyek foto, karakter patung itu tidak pas dengan lingkungannya dan patung itu terlalu lama di situ dan banyak menjadi pertanyaan orang baik positif maupun negatif

Patung Akar di 0 Kilometer, Apa Kata Pengurus Kota?

Patung Akar. foto: @YandiNcex

‘Hilangnya’ Patung Akar di 0 Kilometer sedang menjadi pembicaraan masyarakat Jogja. Ada yang bilang karena ditekan oleh salah satu ormas, mbuh ormas berpeci atau ormas berkatok..

Lebih dari setahun lalu saya pernah bertanya ke salah satu ‘Pengurus Kota’ tentang Patung Akar ini, kenapa patung itu bisa bertahan begitu lama di sana. Jawaban yang saya terima waktu it adalah ‘kita tidak tahu seniman siapa yang membuat dan memasang patung itu, jadi kita tidak berani memindahkan tanpa ijin senimannya.’

‘Ini kan Kota Budaya, kita tidak bisa dengan mudah menggusur karya seni yang dipajang. Disamping itu, untuk memindahkan patung sebesar itu butuh biaya banyak. Semestinya senimannya sendiri yang memindahkannya’ begitu lanjutnya.

Saya cuma mantuk-mantuk saja waktu itu, masih dengan pikiran yang bersliweran tentang Patung Akar itu. Obrolan santai dengan Pengurus Kota waktu itu masih berlanjut.