Parkir Malioboro

https://twitter.com/indrasayap/status/615747771782397952/photo/1

“lagi2 parkir malioboro.mbok diatur ndes! ngganti sakpenake dhewe. depan liman 30/6/15” demikian ujar Indra Bayu di akun twitternya @indrasayap dan mengunggah foto yang menggambarkan secarik kertas parkir.

Karcis Parkir berlabel Pemerintah Kotamadya Yogyakarta, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, UPT Pengelolaan Kawasan Malioboro itu nampaknya merupakan karcis parkir resmi Pemerintah Kota yang sudah dicoret oleh (mungkin) tukang parkirnya dan nampak nominal Rp. 1.000,- menjadi Rp. 2.000,-

Nampaknya Indra geram dengan perubahan tidak resmi nominal parkir di depan Toko Liman Jl. Malioboro Jogja itu, sehingga ia me-mention dan untuk mengadukan pelayanan parkir di sana.

— baca juga: Graffiti, Vandal atau Seni?

Carut-marutnya tarif parkir di Yogyakarta sudah lama terjadi, pemilik kendaraan ada yang pasrah karena kalau menolakpun tidak ada solusi. Kadang uang parkir ditarik di depan, Continue reading “Parkir Malioboro”

Graffiti, Vandal atau Seni?

Graffiti di salah satu sudut kota Jogja. foto: @Asli_Wong_Jogja

Graffiti, kalau di Google Translate artinya coretan.

Semua orang pasti setuju kalau graffiti itu digolongkan seni. Dan semua orang pasti akan membela kalau graffiti dikatakan vandal.

Saya sendiri setuju kalau graffiti itu dikatakan sebuah karya seni.  Tetapi sedikit tergelitik dalam benak saya, benarkah graffiti bukan vandal?

Cobalah keliling Jogja, kota tempat tinggal saya sekarang. Mungkin apa yang ada di benak saya itu benar adanya. Kenapa? Menurut saya, Jogja dan DI Yogyakarta menjadi cenderung kumuh, kalau boleh saya bandingkan dengan Bali, kota kelahiran saya. Di setiap sudut kota dan desa penuh coretan, entah itu coretan nama genk entah itu coretan gambar yang bagus bahkan signboard Superindo di dekat rumah pun berisi coretan.

Balik lagi ke graffiti itu vandal atau seni..

Bagi saya seni itu hasil cipta, rasa dan budaya si pembuatnya. Seni itu tidak merugikan orang lain. Seni itu bisa dinikmati oleh sedikit atau banyak orang dan semua difinisi yang enak-enak.

Pernahkah terpikirkan bahwa graffiti itu vandal? Secara umum pasti mengatakan tidak. Kenyataannya, segala hal yang merupakan kebalikan dari pernyataan dan difinisi seni tadi, bisa dimasukkan kategori vandal.

Saat si seniman graffiti akan menggambar dinding sebuah toko, mestinya si seniman meminta ijin pemilik toko dulu kan. Nah, bisa jadi si pemilik toko itu sebenarnya tidak rela kalau dinding tokonya digambari, tetapi atas nama seni, terpaksa dia merelakan dinding tokonya di graffiti. Apalagi jika si seniman berpenampilan serem dan beramai ramai saat minta ijin.

Di sudut lain kota Jogja, ada bangunan tua dan kosong, tetapi dindingnya penuh dengan graffiti sehingga bangunan dan kesan heritage-nya menjadi tidak kelihatan.

Pernah juga melihat, dinding rumah yang dilapisi batu alam, tetapi batu alamnya sudah tidak kelihatan lagi tertutup oleh gambar graffiti. Kasian arsitek rumah itu jika melihat hasil karyanya tidak sesuai dengan yang diharapkan.

Di Fly Over Jombor, yang saat ini belum selesai dibangun, di bagian sampingnya sudah bergraffiti.

Pernah juga melihat, sebuah rumah memasang tulisan dilarang corat-coret di dinding ini

Saya bukan menolak graffiti, tetapi alangkah indahnya kalau di tempat-tempat tertentu bisa saling bersanding .

Patung Akar di 0 Kilometer, Siapa Yang Salah?

Patung Akar di belakang UPT Malioboro. foto: @liputan6dotcom

berkecamuk dalam pikiran tentang penjelasan Patung Akar di 0 Kilometer yang begitu lama bertahan, masih saat obrolan santai dengan Pengurus Kota waktu itu.

Kenapa patung itu bisa begitu lama bertahan? Kenapa Pengurus Kota seperti membiarkan patung itu berada di situ? Kenapa senimannya tidak memindahkannya? dan kenapa kenapa lainnya..

Kalau dari sisi Ruang Publik, area Titik 0 Kilometer ( dan ruang publik lainnya ) sebaiknya mempunyai peraturan-peraturan yang harus diketahui oleh masyarakat umum, seniman, event organizer, komunitas sampai pedagang asongan dan yang sering berkaitan dengan penggunaan ruang publik itu.

Senimanpun hendaknya mengerti, bahwa pameran di ruang publik itu tentu ada batasan waktunya. Tidak hanya satu seniman yang membutuhkan ruang publik, sehingga mereka semestinya sadar bahwa masih banyak seniman lain yang membutuhkan tempat berpameran dengan biaya murah.

Pengurus Kota-pun hendaknya sadar, bahwa ruang publik itu bukan hanya ruang publik yang bisa dipergunakan dengan bebas sebebas bebasnya, tetapi ruang publik yang bebas terbatas, ruang publik yang bebas tapi ada aturan mainnya. Sehingga perlu dibuatkan aturan-aturan, bukan hanya aturan saja, tetapi penerapan pelaksanaannya. Percaya, Pengurus Kota psti sudah punya aturannya. Bukan hanya kalau ada kepentingan tertentu baru peraturannya berlaku.

Patung Akar, seni instalasi yang mungkin pemegang rekor pameran terlama di Titik 0 Kilometer, adalah karya seni menjadikan Pengurus Kota serba salah untuk ‘memindahkan’nya. Kalau dipindahkan begitu saja, takut dibilang tidak mendukung seniman berkarya. Kalau tidak dipindahkan, sakjane yo rapopo sih.. patung itu jadi obyek foto, karakter patung itu tidak pas dengan lingkungannya dan patung itu terlalu lama di situ dan banyak menjadi pertanyaan orang baik positif maupun negatif