20150912 tekno

Exclusive Blogger Invitation Smartfren Network Drive Test Yogyakarta

Andromax Q

Andromax Q dari Smartfren

(tulisan pertama dari sekian tulisan tentang Exclusive Blogger Invitation Smartfren Network Drive Test Yogyakarta)

Setelah email-emailan beberapa kali yang berakhir dengan konfirmasi kehadiran, akhirnya 2 minggu lalu, tepatnya Rabu 26 Agustus 2015 saya mendapatkan undangan yang bertajuk “Exclusive Blogger Invitation Smartfren Network Drive Test Yogyakarta” dari Smartfren. Acara ini dihadiri oleh teman-teman blogger dan media Jogja (dan ternyata) juga dihadiri oleh beberapa media nasional yang meliput test drive dari Jakarta hingga Solo bersama dengan tim Smartfren.

Jam 11.00 tepat saya sudah hadir di Boggey Terrace Hotel Hyat Regency Yogyakarta.Tiba di Boggey Terrace yang berhadapan dengan drive range Hotel Hyatt Regency, belum banyak yang datang. Terlihat teman blogger Jarwadi sedang ngobrol dengan seseorang, saya merapat dan duduk bersama semeja dengan mereka. Setelah berbasa-basi sedikit, ternyata saya baru tahu kalau yang diajak ngobrol Jarwadi adalah OomYahya, salah satu follower saya di twitter. Semakin lancar dan seru obrolan dengan mereka berdua yang membuat saya pengen kembali aktif ngeblog, banyak ilmu dan pencerahan dari hasil ngobrol dengan mereka.

Tidak lama kemudian, Seno Pramuadji dari tim Smartfren datang dan memperkenalkan diri dan mempersilakan untuk mulai makan siang sambil menyerahkan 1 unit Andromax Q untuk digunakan test drive nanti. Unboxing Andromax Q langsung dilakukan dengan cepat langsung disetting dengan memasukkan uSIM 4GLTE prabayar, registrasi Google, dan mengunduh aplikasi Ookla dibantu oleh tim dari Smartfren.

Acara dimulai dari makan siang, unboxing Andromax Q kemudian dilanjutkan dengan test drive akses Smartfren 4GLTE mengelilingi hampir dua pertiga kota Yogyakarta dari Hotel Hyatt Regency di daerah Palagan sampai Rumah Makan Sekar Kedhaton di Kotagede.

Kami berangkat naik bis, dengan rute Hotel Hyatt Regency – Jl Monjali – SMKN 2 Yogyakarta – Tugu – Jl Mangkubumi – jembatan Kleringan – Jl Mataram – 0 Kilometer – Parkir Ngabean – Pojok Beteng Kulon – Pojok Beteng Wetan – XT Square – berakhir di Rumah Makan Sekar Kedhaton Kotagede.

Di SMKN 2 Yogyakarta kami mampir untuk  menyaksikan Workshop Internet Cerdas yang diselenggarakan oleh CSR Smartfren yang dihadiri juga oleh beberapa SMA dan SMK se-kota Yogyakarta. Di Rumah Makan Sekar Kedhaton kami berdiskusi tentang hasil test drive, jaringan 4GLTE Smartfren dan jaringan 4 GLTE secara umum yang ada di Jawa Tengah / DI Yogyakarta

untuk cerita selanjutnya, tunggu tulisan tentang acara ini ya..

 

avatar_tugu

Parkir Malioboro

“lagi2 parkir malioboro.mbok diatur ndes! ngganti sakpenake dhewe. depan liman 30/6/15” demikian ujar Indra Bayu di akun twitternya @indrasayap dan mengunggah foto yang menggambarkan secarik kertas parkir.

Karcis Parkir berlabel Pemerintah Kotamadya Yogyakarta, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, UPT Pengelolaan Kawasan Malioboro itu nampaknya merupakan karcis parkir resmi Pemerintah Kota yang sudah dicoret oleh (mungkin) tukang parkirnya dan nampak nominal Rp. 1.000,- menjadi Rp. 2.000,-

Nampaknya Indra geram dengan perubahan tidak resmi nominal parkir di depan Toko Liman Jl. Malioboro Jogja itu, sehingga ia me-mention dan untuk mengadukan pelayanan parkir di sana.

— baca juga: Graffiti, Vandal atau Seni?

Carut-marutnya tarif parkir di Yogyakarta sudah lama terjadi, pemilik kendaraan ada yang pasrah karena kalau menolakpun tidak ada solusi. Kadang uang parkir ditarik di depan, Continue reading

20150912 TRI

Bis KPK Bertenaga Listrik?

Bis KPK bertenaga listrik?

Lihat saja foto di sebelah, bagian belakang bis yang biasanya berisi mesin, di bis KPK ini dipasangi generator pembangkit listrik. Ada tulusannya 10ESX Exellent Silent Generator, tetapi tidak jelas berapa watt yang mampu dihasilkan generator ini. Hasil browsing bermerk Denyo buatan Jepang berkemampuan 8kVA.

Entahlah, bis ini bertenaga listrik atau bermesin diesel, tetapi logika saya generator ini digunakan untuk mendukung kebutuhan listrik untuk perangkat elektronik di dalamnya selain aslinya menggunakan mesin diesel untuk penggerak kendaraan.

Foto ini saya ambil di Taman Pintar Yogyakarta pada 4 Mei 2015.

Twitter circle 2

Akankah Kejayaan Twitter Akan Berakhir?

“Kira-kira sampai kapan Twitter akan bertahan?” Setiap kali menjadi pembicara, pertanyaan yang satu ini pasti muncul dari audience. Pertanyaan yang sebenarnya sulit dijawab tanpa angka-angka yang empiris. Hampir sama dengan pertanyaan “Kapan kira-kira hari kiamat?”

Biasanya saya menjawab, “Twitter nggak akan mati segera, semua butuh proses, karena pesaing yang sejenis sampai sekarang belum terlihat nyata”.
Iya, lahir, hidup dan mati butuh proses. Disamping itu Continue reading

dhee @SenggOL

Blogger Day 2014

Malam menjelang pagi, satu setengah jam hari blogger sudah berlalu. Tapi tekad untuk ber-makro blogging – seperti yang saya katakan ke dokter IMCW, @blogdokter tadi sore – harus terlaksana setelah sekian lama terhenti.

Makro blogging? Iya, setelah jaman dulu ngeblog di web, kemudian sejak 2010 rutinitas nge-blog bergeser ke mikro blogging alias sosial media hingga akhirnya web blog terbengkalai. Web blog hanya dibayar domain dan hostingnya saja. Makro blogging atau ngeblog di web, mikro blogging atau ngeblog di sosial media. Sama-sama ngeblog sih.. tapi beda wahana ..

Mungkin sebentar lagi mikro blogging juga sedikit demi sedikit tergeser, walau tidak frontal. Mainan baru yang mulai banyak penggemar yaitu video blogging.. nge-youtube .. kemudian voice blogging.. dengan soundcloud atau aplikasi-aplikasi sejenis lainnya.

Makin ramailah sarana per-blog-an.. semoga semuanya itu bisa bersanding dan tidak saling mengalahkan. Duduk sama rendah, berdiri sama tinggi…

Selamat Hari Blogger yang jatuh pada Senin 27 Oktober 2014

*via iPad

20150912 vandal

Graffiti, Vandal atau Seni?

Graffiti di salah satu sudut kota Jogja. foto: @Asli_Wong_Jogja

Graffiti, kalau di Google Translate artinya coretan.

Semua orang pasti setuju kalau graffiti itu digolongkan seni. Dan semua orang pasti akan membela kalau graffiti dikatakan vandal.

Saya sendiri setuju kalau graffiti itu dikatakan sebuah karya seni.  Tetapi sedikit tergelitik dalam benak saya, benarkah graffiti bukan vandal?

Cobalah keliling Jogja, kota tempat tinggal saya sekarang. Mungkin apa yang ada di benak saya itu benar adanya. Kenapa? Menurut saya, Jogja dan DI Yogyakarta menjadi cenderung kumuh, kalau boleh saya bandingkan dengan Bali, kota kelahiran saya. Di setiap sudut kota dan desa penuh coretan, entah itu coretan nama genk entah itu coretan gambar yang bagus bahkan signboard Superindo di dekat rumah pun berisi coretan.

Balik lagi ke graffiti itu vandal atau seni..

Bagi saya seni itu hasil cipta, rasa dan budaya si pembuatnya. Seni itu tidak merugikan orang lain. Seni itu bisa dinikmati oleh sedikit atau banyak orang dan semua difinisi yang enak-enak.

Pernahkah terpikirkan bahwa graffiti itu vandal? Secara umum pasti mengatakan tidak. Kenyataannya, segala hal yang merupakan kebalikan dari pernyataan dan difinisi seni tadi, bisa dimasukkan kategori vandal.

Saat si seniman graffiti akan menggambar dinding sebuah toko, mestinya si seniman meminta ijin pemilik toko dulu kan. Nah, bisa jadi si pemilik toko itu sebenarnya tidak rela kalau dinding tokonya digambari, tetapi atas nama seni, terpaksa dia merelakan dinding tokonya di graffiti. Apalagi jika si seniman berpenampilan serem dan beramai ramai saat minta ijin.

Di sudut lain kota Jogja, ada bangunan tua dan kosong, tetapi dindingnya penuh dengan graffiti sehingga bangunan dan kesan heritage-nya menjadi tidak kelihatan.

Pernah juga melihat, dinding rumah yang dilapisi batu alam, tetapi batu alamnya sudah tidak kelihatan lagi tertutup oleh gambar graffiti. Kasian arsitek rumah itu jika melihat hasil karyanya tidak sesuai dengan yang diharapkan.

Di Fly Over Jombor, yang saat ini belum selesai dibangun, di bagian sampingnya sudah bergraffiti.

Pernah juga melihat, sebuah rumah memasang tulisan dilarang corat-coret di dinding ini

Saya bukan menolak graffiti, tetapi alangkah indahnya kalau di tempat-tempat tertentu bisa saling bersanding .

avatar_tugu

Patung Akar di 0 Kilometer, Apa Kata Pengurus Kota?

Patung Akar. foto: @YandiNcex

‘Hilangnya’ Patung Akar di 0 Kilometer sedang menjadi pembicaraan masyarakat Jogja. Ada yang bilang karena ditekan oleh salah satu ormas, mbuh ormas berpeci atau ormas berkatok..

Lebih dari setahun lalu saya pernah bertanya ke salah satu ‘Pengurus Kota’ tentang Patung Akar ini, kenapa patung itu bisa bertahan begitu lama di sana. Jawaban yang saya terima waktu it adalah ‘kita tidak tahu seniman siapa yang membuat dan memasang patung itu, jadi kita tidak berani memindahkan tanpa ijin senimannya.’

‘Ini kan Kota Budaya, kita tidak bisa dengan mudah menggusur karya seni yang dipajang. Disamping itu, untuk memindahkan patung sebesar itu butuh biaya banyak. Semestinya senimannya sendiri yang memindahkannya’ begitu lanjutnya.

Saya cuma mantuk-mantuk saja waktu itu, masih dengan pikiran yang bersliweran tentang Patung Akar itu. Obrolan santai dengan Pengurus Kota waktu itu masih berlanjut.